International Ramadhan Celebration: Celebrating Cultural Diversity in the International Education

UPT Bahasa Untan ikut menyemarakkan bulan Ramadhan 1439 H dengan menyelenggarakan sharing session atau sesi berbagi bersama para dosen dan lulusan Universitas Tanjungpura yang pernah dan sedang menempuh studi S2 dan S3 di Perancis, Inggris, Jepang, dan Australia pada Jumat (25/5) di Aula UPT Bahasa Untan. Pada sesi ini, para narasumber berbagi cerita tentang pengalaman mereka menjalani Ramadhan selama tinggal di luar negeri kepada para peserta.

Kepala UPT Bahasa Untan, Stella Prancisca mengatakan, kegiatan ini juga dilaksanakan dalam rangka menjaga semangat dan meningkatkan mutu alumni, terutama yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri. “Di acara ini, UPT Bahasa Untan memberdayakan dosen-dosen di lingkungan universitas Tanjungpura yang telah berhasil menyelesaikan studi mereka untuk berbagi informasi beasiswa, juga bercerita tentang tantangan yang mereka hadapi ketika menjalani ibadah Ramadhan di negara orang. Kami juga menghadirkan Sensei Misaka, yang walaupun tidak menjalani ibadah puasa, tapi akan menyampaikan perspektifnya mengenai makna Ramadhan di negara Jepang”, jelas Stella. Stella berharap, melalui acara sharing session ini, para peserta dapat menjadikan momentum bulan Ramadhan untuk menjadi insan yang berguna dan tidak sungkan belajar dari ahlinya.

Narasumber pada acara sharing session ini  antara lain, Siti Nani Nurbaeti, doktor lulusan Université de Poitiers, Perancis yang merupakan salah satu pengajar di program studi farmasi Untan. Dosen muda yang akrab disapa Beti ini memaparkan beragam tantangan yang ia hadapi selama Ramadhan. “Salah 1 tantangan yang sulit adalah menyesuaikan shalat tarawih. Di sana, shalat tarawih dilaksanakan 4 raka’at setelah sholat maghrib, dan 4 raka’at setelah sholat Isya. Dilanjutkan dengan mendengarkan khutbah. Memang waktunya lebih panjang daripada yang biasa kita jalani di Indonesia, tetapi kami semua sangat bersemangat menjalani ibadah Ramadhan di negara Perancis”, jelas Beti.

Tak hanya Beti, lulusan Universitas Tanjungpura yang sedang menempuh studi S2 di Monash University Australia, Indra Dwi Prasetyo, juga berbagi pengalamannya melalui video call. Menurut Indra, nuansa Ramadhan di Australia sangat berbeda dari Indonesia. “Alhamdulillah saya tidak terkendala dengan masalah waktu. Di sini, imsak dimulai pukul 6 pagi, dan berbuka pukul 5. Tantangan yang paling terasa di sini adalah membagi waktu antara mengerjakan ibadah di bulan Ramadhan dengan menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan di perkuliahan”, papar Indra. Sesi dilanjutkan dengan pemaparan mengenai suasana Ramadhan di negara Jepang oleh penutur asli bahasa Jepang, Fujie Misaka. Pengajar Bahasa Jepang di UPT Bahasa Untan ini menyebutkan, saat ini jumlah Muslim di Jepang berkisar antara 100,000-200,000 jiwa. “Setiap tahunnya, pemerintah Jepang mengundang para warga Muslim yang tinggal di Jepang untuk melaksanakan buka puasa bersama, dengan sajian makanan yang beragam sesuai dengan asal negara mereka”, jelas Misaka.

Sharing Session ditutup dengan penyampaian tausiyah oleh Ustadz Uslah. Ustadz Uslah memaparkan tausiyah dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan bahasa Arab. Dalam tausiyahnya, beliau menyebutkan tentang berbagai keutamaan menjalankan ibadah di bulan Ramadhan serta mengingatkan para peserta untuk terus semangat menyelesaikan dan melanjutkan studi mereka.

Tinggalkan Balasan